Ada sebuah cerita Cina kuno tentang seorang laki-laki tua yang sikapnya dalam
memandang kehidupan berbeda sama sekali dengan orang-orang lain di desanya.
Rupanya laki-laki tua ini hanya mempunyai seekor kuda, dan pada suatu hari
kudanya kabur. Para tetangganya datang dan menaruh belas kasihan kepadanya,
mengatakan kepadanya betapa mereka ikut sedih karena kemalangan yang menimpanya.
Jawabannya membuat mereka heran.
"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemalangan?" dia bertanya.
Beberapa hari kemudian kudanya pulang, dan ikut bersamanya dua ekor kuda liar.
Sekarang si laki-laki tua punya tiga ekor kuda. Kali ini, tetangga-tetangganya
mengucapkan selamat atas kemujurannya.
"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemujuran?" dia menjawab.
Pada hari berikutnya, sementara sedang berusaha menjinakkan salah seekor kuda
liar, anak laki-lakinya jatuh dan kakinya patah.
Sekali lagi, para tetangga datang, kali ini untuk menghibur si laki-laki tua
karena kecelakaan yang menimpa anaknya.
"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemalangan?" dia bertanya.
Kali ini, semua tetangganya menarik kesimpulan bahwa pikiran si tua kacau dan
tidak ingin lagi berurusan dengannya.
Walaupun demikian, keesokan harinya penguasa perang datang ke desa dan mengambil
semua laki-laki yang sehat untuk dibawa ke medan pertempuran. Tetapi anak si
laki-laki tua tidak ikut diambil, sebab tubuhnya tidak sehat!
Kita semua akan menghayati kehidupan yang lebih tenang kalau kita tidak terlalu
tergesa-gesa memberikan penilaian kepada peristiwa yang tejadi. Bahkan apa yang
paling kita benci, dan yang masih menimbulkan reaksi negatif kalau terpikirkan
oleh kita, mungkin memainkan peranan positif dalam hidup kita.
(be proactive: perbesar ruang jeda antara stimulus dan respons..... :)
Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan sebuah ”permainan”.
Ibu Guru menyuruh tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan
kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang
dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa.... tergantung jumlah
orang-orang yang dibenci.
Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong
plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah
guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid
harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi,
bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.
Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh,
apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat, baunya juga tidak sedap.
Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka
akan segera berakhir.
Ibu Guru: “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”
Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa
nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut kemanapun mereka pergi.
Gurupun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.
Ibu Guru: “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila
kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa
kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita
membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkah tidak nyamannya...”
Suatu ketika, ada seorang
wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut
yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata: "Aku
tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk
ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".
Pria berjanggut itu lalu
balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Wanita itu menjawab, "Belum,
dia sedang keluar".
"Oh kalau begitu, kami
tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suami mu kembali", kata pria
itu.
Di waktu senja, saat keluarga
itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya
bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan
pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati
makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk
masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak
bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan.
"Lho, kenapa? tanya
wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu
berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria
berjanggut di sebelahnya, dan "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil
memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-sayang.
Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke
rumahmu."
Wanita itu kembali masuk
kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan
sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si KEKAYAAN masuk ke dalam. Aku
ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."
Istrinya tak setuju dengan
pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si KESUKSESAN
saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang
pertanian kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan
percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.
"Bukankah lebih baik jika kita mengajak si KASIH-SAYANG yang masuk ke dalam?
Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang."
Suami-istri itu setuju dengan
pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si KASIH-SAYANG ini ke dalam.
Dan malam ini, si KASIH-SAYANG menjadi teman santap malam kita."
Wanita itu kembali ke luar,
dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang?
Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si KASIH-SAYANG bangkit,
dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya
pun ikut serta.
Karena merasa ganjil, wanita
itu bertanya kepada si KEKAYAAN dan si KESUKSESAN. "Aku hanya mengundang
si KASIH-SAYANG yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu berdua ikut juga?"
Kedua pria yang ditanya itu
menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si KEKAYAAN, atau si KESUKSESAN,
maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si KASIH-SAYANG,
maka, kemana pun Kasih-sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana
ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.
Sebab, ketahuilah, sebenarnya
kami berdua ini buta. Dan hanya si KASIH-SAYANG yang bisa melihat. Hanya dia
yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka,
kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."
Di sebuah hutan, tinggallah
seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan
coklat keemasan.
Luka yang di derita serigala,
terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala
berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik
malah mengenai kaki belakangnya.
Kini, hewan bermata liar
itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari
perkampungan penduduk.
Sang harimau pun tahu bagaimana
membalas budi.
Setiap selesai berburu, di
mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit,
sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan.
Sang harimau paham, bahwa
tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu.
Sebagai balasannya, sang
serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan
lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar.
Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok
gua.
Rupanya, peristiwa itu telah
sampai pula ke telinga seorang pertapa.
Sang pertapa, tergerak hatinya
untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran
tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji
keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan
olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua
mau untuk ikut.
Di pagi hari, berangkatlah
mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan
di depan rombongan. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua,
tempat sang harimau dan serigala itu menetap.
Kebetulan, sang harimau baru
saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala.
Melihat kejadian itu, sang
pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat
kalian lihat dari sana...?”.
Seorang murid tampak angkat
bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan
memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja,
karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepadaku lewat berbagai cara.”
Sang pertapa tampak tersenyum.
Sang murid melanjutkan ucapannya,
“Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan
mendapat makanan.”
Selesai bicara, murid itu
kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya.
“Ya, kamu tidak salah.
Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu
bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh."
"Berhentilah berharap
menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau!”
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang
yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.
Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil
segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya
garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya...", ujar Pak Tua
itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan
ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi
telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam,
ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk
dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah".
Saat anak muda itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana
rasanya?"
"Segar", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya
duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam
, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang
akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari
wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat
kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita."
"Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya
ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu".
"Jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, tapi buatlah laksana telaga
yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan
kebahagiaan".
Seorang petani kaya mati dan meninggalkan kedua putranya.
Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai
suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta
warisan ayahnya. Setelah harta terbagi, masih tertingal satu kotak yang selama
ini disembunyikan oleh ayah mereka.
Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di dalamnya, yang satu
terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murah.
Melihat cincin berlian itu, timbullah keserakahan sang kakak, dia menjelaskan,
“Kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari
nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita.
Sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu.”
Sang adik tersenyum dan berkata, “Baiklah, ambil saja yang emas, aku
ambil yang perunggu.” Keduanya mengenakan cincin tersebut di jari masing-masing
dan berpisah.
Sang adik merenung, “Tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang
mahal itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini?”
Dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir di cincin itu:
INI PUN AKAN BERLALU. “Oh, rupanya ini mantra ayah…,” gumamnya
sembari kembali mengenakan cincin tersebut.
Kakak-beradik tersebut mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. Ketika panen berhasil,
sang kakak berpesta-pora, bermabuk-mabukan, lupa daratan. Ketika panen gagal,
dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, hutang sana-sini. Demikian
terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan batinnya,
sulit tidur, dan mulai memakai obat-obatan penenang. Akhirnya dia terpaksa menjual
cincin berliannya untuk membeli obat-obatan yang membuatnya kecanduan.
Sementara itu, ketika panen berhasil sang adik mensyukurinya, tetapi dia teringatkan
oleh cincinnya: INI PUN AKAN BERLALU. Jadi dia pun tidak menjadi sombong dan
lupa daratan.
Ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa: INI PUN AKAN BERLALU, jadi ia pun
tidak larut dalam kesedihan.
Hidupnya tetap saja naik-turun, kadang berhasil, kadang gagal dalam segala
hal, namun dia tahu bahwa tiada yang kekal adanya. Semua yang datang, hanya
akan berlalu.
Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya, dia hidup tenteram, hidup
seimbang, hidup bahagia.
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja
arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu.
Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai
arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali
arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang
kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia
saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.
Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan
semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu,
datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak
berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang
kayu tersebut.
Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya
banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma
seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang
kayu.
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa
mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada",
jawab anak itu.
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup.
Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan
dan kegaduhan'.
Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah
menghadapi setiap permasalahan.